Kejang Demam Pada Anak, Kenali Penyebab dan Penanganannya

 Kejang demam atau biasa dikenal sebagai step, pada anak adalah hal yang dikhawatirkan dan ditakutkan oleh para orang tua. Kondisi kejang ini muncul ketika demam sudah terbilang tinggi dengan ditandai kejang-kejang, mata mendelik, dan terkadang lidah tergigit.  Jika dilihat kejang demam adalah kondisi yang menakutkan. Namun, secara umum kejang demam tidak berbahaya dan akan hilang sendiri seiring pertambahan usia si Kecil. 

Mari mengenal apa itu kejang demam atau step, penyebab dan bagaimana cara mengatasinya berikut ini. 

Apa itu kejang demam (febris konvulsi)?

Kejang demam adalah bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan suhu tubuh yang disebabkan oleh suatu proses ekstrakranium atau terjadi di luar sistem saraf pusat atau otak. 

Umumnya kejang demam sekitar 2% sampai 4% anak berumur antara 6 bulan sampai 6 tahun. Kejang yang terjadi pada anak saat mengalami demam tinggi ini dapat berlangsung beberapa detik atau hingga 15 menit yang umumnya diikuti dengan kantuk.  

Setiap anak memiliki suhu ambang kejang yang berbeda bisa 38 derajat Celcius, tetapi ada juga yang baru mengalami kejang ketika derajat demam di angka 40 derajat Celcius.

Tak sedikit orang tua yang beranggapan bahwa kejang demam adalah epilepsi. Faktanya, sebagian besar kasus kejang demam bukanlah epilepsi dan tidak akan menyebabkan kerusakan otak maupun mempengaruhi kecerdasannya. 

Setidaknya, ada 1 dari setiap 20 anak yang akan mengalami satu atau lebih kejang demam. Sekitar 30% anak yang pernah mengalami kejang demam, biasanya cenderung akan mengalaminya lagi. 

Tanda dan gejala kejang demam

Ketika bayi atau anak Anda mengalami kejang demam, maka ada tanda dan gejalanya sesuai dengan jenisnya. Gejala umum dari kejang demam adalah berkedut atau menyentak lengan dan kaki dan perubahan mata berputar, jadi hanya bagian putih matanya yang terlihat. 

Anak Anda mungkin membutuhkan waktu 10 hingga 15 menit untuk bangun dengan benar setelahnya. Selama kejang demam ini, mungkin mudah tersinggung selama waktu ini dan tampaknya tidak mengenali Anda sebagai orang tuanya.

Yuk kenali beberapa jenis kejang demam beserta gejalanya berikut ini. 

1. Kejang demam sederhana (simple febrile seizure)

Jenis yang pertama adalah kejang demam sederhana (simple febrile seizure). Kejang demam sederhana berlangsung singkat, kurang dari 2 menit sampai 15 menit. Umumnya, jenis kejang demam ini akan berhenti dengan sendirinya.

Selain itu, kejang tidak berulang dalam waktu 24 jam. Kondisi ini paling banyak terjadi dengan persentase 80% di antara seluruh kejang demam.  

Lalu, gejala kejang demam sederhana adalah: 

Hilang kesadaran

Anggota tubuh kejang atau berkedut. Biasanya berpola ritmik

Setelah kejang, penderitanya cenderung kebingungan atau kelelahan. Namun lengan atau kaki tidak lemah.

2. Kejang demam kompleks (complex febrile seizure)

Jika kejang demam berlangsung lebih dari 15 menit, maka termasuk kejang demam kompleks (complex febrile seizure). Bahkan, biasanya kondisi ini terjadi berulang atau lebih dari satu kali dalam 24 jam. 

Gejala kejang demam kompleks yang umum sama dengan simple febrile seizure yaitu kehilangan kesadaran, dan anggota tubuh kejang atau berkedut. Namun, pada complex febrile seizure juga menimbulkan gejala kelemahan sementara, yang biasanya pada satu lengan atau tungkai.

Jika demam terjadi berulang, maka suhu tubuh anak untuk kejang pertama kemungkinan besar lebih rendah. Lalu step berikutnya akan kembali muncul dalam waktu satu tahun setelah kejang awal tetapi suhu demam mungkin tidak setinggi kejang demam pertama. 

Penyebab terjadinya kejang demam

Kejang demam terjadi saat anak mengalami demam yang terjadi secara mendadak. Penyebabnya bisa jadi infeksi bakteri atau virus. Kejang demam juga terjadi pada anak-anak yang sudah menjalani vaksin rubella, difteri, tetanus dan pertusis. 

Sementara penyebab mengapa ada anak mengalami kejang demam ketika suhu tubuh tinggi sementara anak lainnya tidak mengalaminya, sampai saat ini belum diketahui secara pasti. 

Namun, ada sejumlah faktor risiko yang diduga meningkatkan terjadinya kejang demam, terutama yang berulang, yaitu:

Riwayat keluarga  

Pernah mengalami kejang demam sebelumnya. Pasalnya, sekitar 1 dari setiap 3 anak yang pernah mengalami satu kali kejang demam akan mengalami kejang demam lagi, biasanya dalam 1-2 tahun pertama.

Mengalami kejang demam pertama ketika berusia kurang dari 15 bulan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pandemi Covid 19 Dan Pencegahan

Diabtes Tipe 2 - Gejala, Penanganan, dan Pengobatan

Remaja Rentan Tertular HIV/AIDS, Ini yang Perlu Diketahu